SMP PANGUDI LUHUR BINTANG LAUT
SMP PL Bintang Laut - Jl. Slamet Riyadi No. 94, Banjarsari, Keprabon, Surakarta 57151, Indonesia.  Telp. (271) 637274
Jumat, 22 September 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


11.11.2015 05:08:01 966x dibaca.
ARTIKEL
MELAYANI TUHAN BERSAMA GURU SEJATI


Sebuah refleksi
Konsekuensi Pendidik ber-spiritualitas Katolik
Yang Berkeunggulan Komunal – Personal

PENGANTAR

Dunia pendidikan saat ini semakin menghadapi banyak tantangan, baik eksternal maupun internal. Pendidikan sebagai media pembentukan manusia menjadi manusia, berhadapan dengan aneka kesulitan terkait dengan manusianya sendiri yang sudah turut juga dibentuk oleh dunia sekitar mereka dan problem pendidikan yang telah menghayati secara berbeda panggilannya sebagai guru. Para siswa sekarang sudah sedemikian diubah oleh peradaban masyarakat yang menyuguhkan aneka kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang mempengaruhi bukan hanya perilaku, namun juga pikiran dan motivasi hidup mereka. Demikian juga para guru, perannya sebagai pendidik telah bergeser menjadi profesi profit bagi hidupnya, dan lebih pada pengajaran belaka.

Gereja hadir di tengah-tengah dunia, untuk ambil bagian dalam peran pengudusan dunia. Gereja hadir di tengah dunia, karena “KEGEMBIRAANDANHARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan,duka dan kecemasan para murid Kristus juga.”(GS art 1)  Gereja dipanggil untuk terlibat langsung dalam dunia, bergaul dengan dunia sebagai pembawa warta sukacita Kerajaan Allah – keselamatan.

KV II menyatakan, “...secara istimewa pendidikan termasuk tugas Gereja, bukan hanya masyarakatpun harus diakui kemampuannya menyelenggarakan pendidikan,  melainkan terutama karena Gereja bertugas mewartakan jalan keselamatan pada semua orang, menyalurkan kehidupan Kristus kepada umat beriman, serta tiada hentinya penuh perhatian membantu mereka, supaya mampu meraih kepenuhan kehidupan itu.” (GE 3).Guru Katolik adalah bagian dari Gereja. Guru Katolik dipanggil untuk terlibat dalam karya keselamatan Kristus dan untuk berpartisipasi pada karya Gereja. Maka profesi sebagai guru menjadi tugas perutusan dan karya kerasulan Gereja yang luhur dan mulia.

Pertanyaannya adalah seberapa banyak guru-guru Katolik yang sungguh menghayati spiritualitas kekatolikan dalam tugasnya sebagai guru? Seberapa banyak guru Katolik yang tetap mempertahankan daya beda mereka sebagai pendidik di tengah-tengah kehadirannya bersama mereka yang non katolik? Identitas seperti apakah yang ditunjukkan oleh para guru Katolik ditengah-tengah yang lain, sehingga mereka memiliki keunggulan personal dan komunal? Tulisan di bawah ini akan mencoba membahasnya secara sekilas hal-hal tersebut.


SUKACITA PANGGILAN SEBAGAI GURU

Pendidikan adalah salah satu karya resmi Gereja. Konsili Vatikan dalam Gravissimum Educationis menegaskan, “Sangat pentingnya pendidikan dalam hidup manusia, serta dampak pengaruhnya yang makin besar atas perkembangan masyarakat zaman sekarang.” (GE – Pendahuluan). Maka tidak dapat kita bayangkan bila Gereja itu tanpa karya pendidikan. Dunia pendidikan turut mewarnai dan memaknai wajah Gereja. Kita dapat menyimak betapa banyak tarekat-tarekat hidup bakti yang memiliki karya utama pendidikan: FIC, CB, SPM, OSF, SJ, dll meski dikembangkan juga karya sosial - kesehatan dan pastoral umat. Hal ini mau menunjukkan peran central pendidikan sebagai karya gereja. Pertanyaannya adalah banggakah Anda sebagai guru Katolik? Dan hal apakah yang Anda banggakan sebagai guru Katolik?

Jika seseorang mengalami sukacita terhadap panggilannya, maka ia akan juga bangga akan hidup ini, demikian juga sebaliknya jika seseorang bangga dengan panggilannya maka ia akan bersukacita dalam hidupnya. Sukacita inilah yang menandai kita sebagai orang Katolik. Yesus selalu mengajarkan soal bersukacitalah. Demikian juga Paulus selalu mengajak umatnya untuk BERSUKACITALAH. “Bersukacitalah, jangan takut. Damai sejahtera bagi kamu,” demikian kata Yesus pada perjumpaan pertama dengan para murid pada peristiwa kebangkitan.

Kita hanya bisa memberi dari apa yang kita punya, maka hanya kita yang telah mempunyai sukacita dapat memberikan sukacita itu pada orang lain. Hanya orang yang telah bisa bersyukur yang bisa mengajak orang lain untuk bersyukur. Dan hanya orang yang telah mengalami kasih Allah-lah yang mampu mengasihi orang lain. Kita dipanggil untuk membagikan sukacita itu kepada anak didik kita.

 

SUNGGUH, GURU ITU KATOLIK!

Di dunia ini tidak ada sesuatupun terjadi secara kebetulan. Everything is happened for a reason. Segala sesuatu terjadi untuk suatu alasan tertentu. Tuhan mengijinkan kita lahir bukan tanpa tujuan. Tuhan menjadikan kita katolik, juga bukan tanpa tujuan. Dan Tuhan memanggil kita untuk menjadi guru, juga bukan tanpa kehendak – tujuan – dan good will yang mau dinyatakan. Guru katolik dipanggil untuk berbeda dengan guru yang bukan katolik. Dalam hal apa berbeda? Ini tugas kita yang terus karus kita cari dan temukan. Perbedaan ini hendaknya juga menunjukkan bahwa tugas dan profesi guru-ku ini bukan kebetulan. Bahkan ditugaskan di mana-pun aku, tidak kebetulan. Apa kehendak Dia yang mau dinyatakan? Ini tugas kita mencari, merenungkan dan akhirnya menemukan.

Sebagai guru Katolik, kita diminta untuk bertindak sebagaimana anjuran Paus Fransiskus terkait dengan Tahun Hidup Bhakti 2015. Paus Fransiskus mengajak untuk: 1) bersyukur atas masa lalu, 2) menghayati hidup masa kini dengan penuh gairah/krentek, antusisme dan 3) memeluk masa depan dengan penuh harapan. Inilah penanda orang beriman, yakni: syukur, krentek/antusiasme dan harapan. Dan ini pulalah yang membedakan kita guru katolik dengan mereka yang non katolik.

Dewasa ini kita dipertemukan dengan gejala betapa mudahnya orang-orang mengalami krisis hidup. Bukan hanya remaja, orang dewasa pun demikian. Bukan hanya awam, religius pun juga demikian. Bukan hanya umat, imam pun juga demikian. Pertanyaan kita adalah burukkah seseorang mengalami krisis? Tidak.

Situasi baik-baik saja yang saya katakan, itu justru tidak selalu mencerminkan keadaan yang nyata-nyata baik. Hidup seolah lurus, dlujur, tidak ada tantangan dan adhem-adhem saja, tidak selalu menjadi suatu pertanda baik. Kita kadang malah harus mengundang situasi yang dinamis, labil dan penuh tantangan demi kemajuan kita. Maka dari itu situasi krisis tidak buruk dan tidaklah baik. Sangat tergantung bagaimana orang menikmati, mencari, mengisi dan menemukan makna positif, makna efektif dan makna konstruktif dari situasi tersebut. Jika kita: saya dan Anda – telah menemukan semua itu, orang lain sungguh akan bilang, “Yah, ia sungguh (guru) Katolik!”     



MENJADI GURU MATEMATIKA YANG KATOLIK

Jika kita telah dinyatakan sebagai “guru katolik” , maka ke-katolik-an kita ini melekat. Guru matematika katolik adalah bukan hanya guru yang mengajarkan soal hitung-menghitung, aljabar, geometri, dsb kepada siswanya namun juga yang mewariskan nilai-nilai iman katolik, kendati pun tidak di sekolah katolik. Yesus meminta kita, “... pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus.” (Mat 28:19). Kekatolikan kita hendaknya ditandai dengan: sukacita dalam hidup, melayani dengan hati, mencintai pekerjaan, dan menanamkan suatu nilai/keutamaan kristiani.     

Para siswa tidak mencatat dan mengingat dengan baik tentang kecerdasan kita mengajar, mudahnya pelajaran kita atau ulangan yang nilainya 100 dari mapel kita. Para siswa lebih mengingat dengan baik hal-hal yang menyangkut kepribadian, sikap-sikap hidup, memperlakukan manusia yang lain, perhatian – kepedulian, dan sentuhan afeksi yang lain. Para siswa sangat memperjuangkan dengan baik aspek intelektual tersebut, namun akan terus menyimpan aspek afeksi para gurunya. Adalah baik jika para siswa belajar dengan tekun dalam hal matematika, namun akan lebih baik jika mereka belajar lebih banyak INSPIRASI HIDUP dari gurunya. Sekelompok siswa dari Inggris ketika ditanya tentang guru favorite, mereka menjawab bukan guru yang memberikan nilai 100 dikertas ulanganya, melainkan guru yang antara lain: bertindak adil, tegas namun akrab, humoris, tidak terlalu serius, perhatian pada siswa bermasalah, inspiratif, memberikan keteladanan/model yang baik, dan komunikatif.

Guru matematika pun dipanggil untuk mengajar dengan baik, namun juga tersenyum ramah pada semua. Ia menerangkan tentang rumus-rumus yang menakutkan, namun juga dapat menerangkan dengan suasana humoris yang segar. Ia sosok guru yang tegas, namun akrab dan dekat dengan para siswanya.

 

GURU BERKUALITAS = SISWA DAN SEKOLAH BERKUALITAS

Ada ungkapan, “There is no good sudent, without good teacher!” Hal ini mau menunjukkan bahwa kualitas guru, sangat menentukan kualitas siswa, dan kualitas siswa akhirnya menentukan kualitas sekolah. Tidak ada siswa yang baik, tanpa guru yang baik, dan tidak ada sekolah yang baik, tanpa siswa yang baik. Dan tidak ada hasil belajar yang baik, tanpa kualitas pengajaran yang baik pula.

Dalam klip pendek Children see,children do .... nampak jelas bahwa para anak belajar pertama dari lingkungan terdekatnya, yakni orang-orang dewasa yang ada disekitarnya: guru, ortu, pak dhe, kakak, kakek, dsb. Cara belajar anak pada usia dini adalah meniru. Namun sayangnya di dunia ini lebih banyak tersaji hal-hal buruk atau kebiasaan-kebiasaan buruk sebagai konsumsi anak untuk ditiru. Arus keburukan ini sudah banyak plus kuat pegaruhnya bagi dunia pendidikan. Maka guru katolik dipanggil untuk membuat hal yang BERBEDA. Dan jika perlu melawan kecenderungan dunia. Di sinilah letak kualitas guru katolik: untuk kualitas berani beda. Jika yang lain telah sangat fleksibel dengan peraturan, guru katolik harus katakan disipline untuk anak-anaknya. Jika yang lain sudah terbiasa dengan “ngaji” guru katolik harus membiasakan perilaku jujur pada peserta didiknya. Ketika yang lain melakukan hal dalam ke-loyo-an, guru katolik tunjukkan bahwa: -- syukur, krentek dan penuh harapan-- selalu terjadi dan ada dalam dirinya. Inilah makna kesaksian hidup ke-katolikan Gereja dan dengan cara itulah Kristus dimuliakan.

Ada sindiran buat Gereja demikian, “Ketika yang lain belum ada, kita adalah yang terbaik. Namun ketika yang lain mulai ada, kita tidak ada apa-apanya!” Mengapa bisa demikian? Penyakit kitalah yang kita tanggung; yakni penyakit MUDAH PUAS. Kita merasa puas dengan apa yang saat ini dan saat itu ada. Sedang di dunia sana, terus menerus berkompetisi dan berlomba untuk terus maju dan terus menjawabi kebutuhan masyarakat. Gereja adalah pioner-pioner yang tertinggal. Sekolah-sekolah katolik adalah sekolah yang terkena air pasang. Bukan kita yang mundur, namun orang lainlah yang bergerak maju. Dan kita berhenti di tempat!

Orang sering terjebak bahwa sekolah yang unggul adalah sekolah yang bergedung megah dan mentereng, semua ruangan ber-AC dan jumlah kelas yang begitu banyak, serta siswanya diantar jemput dengan mobil. Sekolah unggul adalah sekolah effective. Betatpapun gedungnya megah namun jika tidak effektif, maka ia bukanlah sekolah yang unggul. Lalu sekolah yang bagaimana disebtu effektif? Cheng, 1989 mengartikan sekolah effektif demikian: “School Effectiveness as the capability of the school to maximize school functions or the degree to which the school can perform school functions, when given a fixed amount of school inputs.”



KEUNGGULAN KOMUNAL DAN KEUNGGULAN PERSONAL

Keunggulan kelompok atau communio (sekolah) akan selalu dibangun dari keunggulan-keunggulan personal (para guru). Maka sebagai guru katolik, kita dipanggil untuk terus belajar menjadi insan yang luar biasa atau berkeunggulan.  Orang unggul adalah orang yang bisa memadukan 3 aspek dalam dirinya, yakni: aspek psiko fisik, psiko sosial dan psiko spiritual. Psiko fisik: seorang guru punya keunggulan dalam hal menata dirinya. Ia berusaha tampil sebaik dan sesopan mungkin. Guru ini juga akan mengusahakan agar tubuhnya sungguh terawat: sehat dan segar. Membuat nyaman hati semua orang yang memandangya. Menjaga penampilan dan kesehatan tubuh adalah tanda seseorang mempunyai keunggulan psiko fisik. Psiko sosial: pada aspek ini seorang guru menyadari bahwa ia tidak bisa hidup sendiri. Ia harus bisa hidup bersama dan bekerjasama dengan orang lain. Maka guru katolik hendaknya memiliki keunggulan pada psiko sosial ini. Dengan ini, ia akan selalu mengupayakan terjadinya kebaikan dalam kebersamaan, mendukung kegiatan-kegiatan sosial, dan aspek-aspek lain yang mengembangkan komunitas guru sebagai paguyuban. Guru yang demikian, tahu menempatkan diri pada orang lain dan menempatkan orang lain dalam dirinya. Psiko spiritual: aspek psiko spiritual adala aspek yang mendorong manusia untuk mencari Tuhan-nya. Ia terus menjaga, merawat dan menciptakan hubungan dengan Tuhan melalui doa, firman, bacaan rohani, ekaristi dan kegiatan kerohanian yang lain. Pada aspek ini seorang guru katolik akan mempunyai keunggulan pada kekatolikannya.

Ketiga aspek ini tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain atau lebih rendah dari yang lain. Adalah hal yang baik dan tepat jika seorang guru katolik memiliki keseimbangan pada ketiga aspek tersebut. Penekanan pada satu aspek saja, akan membuat hidup seorang guru tidak seimbang, sedang kalo dua aspek saja belumlah lengkap. Jadi ketiga aspek tersebut perlu dihidupi dan dihidupkan untuk menjadi guru yang berkeunggulan dalam kepribadian. Jika guru mempunyai keseimbangan pada 3 aspek ini, kita berharap para siswa juga akan mendapatkan pendidikan pada 2 aspek ini, sehingga memperoleh keseimbangan kepribadian secara utuh.


MASYARAKAT MEMBUTUHKAN SEKOLAH YANG ...
Dari beberapa survey tentang sekolah kepada masyarakat, dapatlah dipaparkan di sini bahwa masyarakat memerlukan sekolah yang demikian:
1.    Memberi rasa aman dan menyenangkan bagi para siswanya,
2.    Pendidikannyaberkualitas: akademis, non akademis, karakter dan rohani,
3.    Hidup rasa kekeluargaan antar guru, siswa – guru dan guru – orang tua.
4.    Sekolah memiliki banyakkegiatan, yang membekali dan mengembangkan
5.    Bermutu: adafaktor yang membanggakan, yang diunggulkan.
6.    Ekspektasike depan tinggi dan visioner
7.    Sistem pelayanantidakmenyusahkandan tidak berbelit-belit
8.    Arah dantujuan, visi-misi, orientasi yang dicapai sekolah cukupjelas
9.    Menjunjung tinggi kedisiplinan, humanis dan religius pada SDM-nya
10.    Melibatkan orangtua dalam memikirkan program dan pembinaan siswa.


P E N U T U P

Semua dari kita dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira atau kabar sukacita. Sukacita seseorang dapat diawali dengan hal-hal yang positif. Kita mulai dari PIKIRAN. Semua dari kita diundang untuk menjadi teladan BERPIKIR POSITIF (positive thinking). Namun berpikir positif saja belumlah cukup. Kita juga harus menjadi teladan dalam MERASA POSITIF (positive felling). Dari merasa positif kita akan menjadi teladan untuk BERTINDAK POSITIF (positive doing).

Dan dengan demikian, kita akan menjadi pribadi-pribadi yang dibangun dengan MOTIF POSITIF dalam merencanakan dan melakukan sesuatu. Syaloom.








^:^ : IP 54.156.67.164 : 2 ms   
SMP PANGUDI LUHUR BINTANG LAUT
 © 2017  http://smpplbintanglaut.pangudiluhur.org/